halaman

Senin, 10 Januari 2011

Sejarah Valentine Day

Sejarah Valentine Day dan Sikap Remaja Muslim


 
Hari valentine atau Valentine Day agaknya tidak asing lagi di kalangan remaja. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang menunggu-nunggu kedatangannya. Bagi mereka, Valentine Day adalah momentum mencurahkan kasih sayang kepada orang yang dicintai. Tanggal 14 Februari adalah tanggal yang diyakini sebagai hari valentine tersebut. Ironisnya, remaja yang turut merayakan hari itu justru dari kalangan remaja muslim yang ikut-ikutan tanpa mengetahui makna dari Valentine Day itu sendiri.
Umat Islam memang tidak dilarang untuk mengikuti budaya orang lain, dengan syarat yang diikuti tersebut tidak bertentangan dengan aturan Islam. Sementara perayaan hari valentine yang merupakan budaya non-muslim justru dijadikan momentum untuk menyampaikan rasa cinta dan kasih sayang kepada pasangan lawan jenisnya, atau lebih dikenal dengan istilah “pacaran”. Biasanya, para remaja akan memberikan hadiah kepada kekasihnya dengan mengucapkan “Be My Valentine”, Jadilah valentinku.
Kemudian pemberian hadiah itu bisa berbentuk bunga mawar, cokelat, atau benda lain yang disukai pasangannya yang biasanya dihiasi warna pink atau ungu. Dan tidak jarang hadiah yang diberikan berupa pegangan tangan, membelai rambut, ciuman, sampai kepada berpelukan yang mereka anggap sebagai wujud dari kasih sayang. Adegan seperti itu tidak lagi dianggap sesuatu yang tabu, malah sebaliknya menjadi kebanggaan sebagai “manusia modern”.
Sungguh memalukan dan memilukan jika remaja muslim juga turut andil dalam perayaan yang sarat dengan kemaksiatan. Mestinya remaja muslim bersifat kritis terhadap budaya luar, bukan anti, tetapi melakukan filterisasi terhadap budaya tersebut sehingga tidak berdampak terhadap perkembangan kepribadian muslim yang memiliki kesucian akidah, ketaatan ibadah, dan keindahan akhlakul karimah. Salah satu upaya untuk mengkritisi budaya luar tersebut adalah dengan melacak akar sejarah dari Valentine Day.
Jika dilacak dari sejarah, terdapat banyak versi tentang asal perayaan Valentine Day. Rizki Ridyasmara, misalnya, dalam bukunya “Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Hallowen. So What?” menguraikan tentang beberapa versi tentang asal usul Valentine Day. Dari uraiannya, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa sejarah Valentine Day bisa ditinjau dari dua versi, yaitu dari tradisi kepercayaan Romawi Kuno dan tradisi yang berkembang di tengah-tengah umat Kristiani. Kedua versi itupun saling berkaitan.
Pada masa Romawi Kuno, dikenal tradisi paganisme (dewa-dewi) dan tradisi-tradisi yang berkembang dipenuhi dengan legenda dan mitos yang sulit dipertanggungjawabkan kebenarannya serta tradisi penyembahan berhala yang juga irrasional. Salah satu tradisi sekaligus kepercayaan yang berkembang ketika itu adalah adanya pandangan bahwa pertengahan Februari dipandang sebagai periode cinta dan kesuburan. Bahkan dalam sejarah kalender Athena Kuno, antara Januari dan pertengahan Februari disebut sebagai bulan Gamelion yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. Sementara di Roma Kuno, 15 Februari dikenal sebagai hari raya Lupercalia, berasal dari nama Lupercus, sang dewa kesuburan. Dewa ini digambarkan sebagai laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Para pendeta pun di masa itu melakukan ritual setiap tanggal 15 Februari berupa penyembahan kepada dewa Lupercalia dengan mengorbankan kambing.
Dua hari sebelumnya, tanggal 13 dan 14 Februari dilakukan persembahan kepada dewi cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata. Di hari itu, para pemuda mengundi nama para gadis di sebuah kotak lalu mengacak dan mencabut namanya. Gadis yang terpilih akan menjadi kekasihnya selama setahun untuk dijadikan objek hiburan. Para pemuda itu juga mengirimkan sebuah kartu yang bertuliskan “dengan nama tuhan Ibu, saya kirimkan kepadamu kartu ini.” Tuhan ibu itu adalah dewi cinta. Akibatnya, perempuan menjadi pelampiasan nafsu kaum lelaki. Pada tanggal 15, dilakukan upacara ke kuil meminta perlindungan kepada dewa Lupercus dan para pemuda membawa potongan kambing yang ia mereka persembahkan lalu melecut gadis-gadis. Para gadis itu pun berebut untuk dilecut karena percaya akan menambah kecantikan dan kesuburan mereka.
Pada masa selanjutnya, berkembanglah agama Kristen Katolik dan memasuki wilayah Roma. Untuk menarik simpati dari penduduk Roma, mereka mengadopsi beberapa tradisi dan upacara paganisme dan mempolesnya dengan nuansa Kristiani dengan harapan mereka berpikir bahwa ada kesamaan antara keyakinan Roma Kuno dengan keyakinan Kristen sebagai ajaran baru. Mereka pun mengganti nama-nama dewa dengan nama-nama Paus dan Pastor. Salah seorang pendukung yang terkenal adalah Kaisar Konstantine dan Paus Greogory I. Salah satu upaya yang mereka lakukan adalah menjadikan upacara Romawi Kuno pertengahan Februari tersebut menjadi Hari Perayaan Gereja pada tahun 496 M dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati Santo Valentine yang kebetulan diyakini wafat tanggal 14 Februari. Bahkan, keinginan untuk mengubah tradisi Romawi ini, para pendeta juga memutuskan mengganti kalimat “dengan nama tuhan Ibu” dengan kalimat “dengan nama Pendeta Valentine” sehingga dapat mengikat para pemuda tersebut dengan agama Nasrani.” Akan tetapi ada pula pendapat lain bahwa Kristen melakukan hal tersebut bukan ingin menarik simpati penduduk Roma, akan tetapi menandingi tradisi penduduk Roma. Yang jelasnya, ada keterkaitan yang erat antara tradisi dan kepercayaan Romawi Kuno dan kebijakan pihak Gereja dalam mempopulerkan Valentine Day.
Mengenai siapa sesungguhnya Santo Valentinus, juga terjadi perbedaan pendapat. Versi pertama berpendapat bahwa Kaisar Claudius II, penguasa Romawi marah lalu menangkap dan memenjarakan Santo Valentinus karena telah berani mengatakan bahwa tuhannya adalah Isa al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Jadi, merayakan Valentine Day adalah penghormatan dan kasih sayang kepada Santo Valentinus yang dianggap sebagai pahlawan dalam mempertahankan keyakinannya sebagai penganut Yesus Kristus, sang anak tuhan.
Versi kedua menyebutkan bahwa kemarahan Kaisar Claudius II berawal dari persepsinya tentang tentara muda bujangan lebih kuat dan tabah ketika berperang dari pada tentara yang telah menikah. Karena persepsi itu, kaisar melarang tentaranya yang masih pemuda menikah. Kebijakan itu secara diam-diam ditentang oleh Santo Valentinus dan dengan diam-diam pula menikahkan banyak pemuda. Ketika usaha Santo Valentinus ketahuan, kaisar memutuskan menghukum gantungnya dan eksekusinya bertepatan tanggal 14 Februari 269 M.
Masih banyak lagi pendapat lain tentang siapa sesungguhnya Santo Valentinus. Bahkan pada abad ke-19, sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus di Via Tibertinus dekat Roma diidentifikasi sebagai jenazah Santo Valentinus. Jenazah tersebut lalu dikirim ke Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia dan diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI tahun 1836.
Di abad pertengahan, kisah Santo Valentinus dihubung-hubungkan dengan cinta romantis pada abad ke-14 oleh orang-orang Inggris dan Perancis. Mereka malah mempercayai pada tanggal 14 Februari sebagai hari ketika burung mencari pasangan untuk kawin. Kepercayaan ini ditulis oleh sastrawan Inggris abad pertengahan, Geoffry Chaucer (abad ke-14 M).
Meskipun terdapat banyak perbedaan tentang Santo Valentinus, yang jelasnya hari valentine berasal dari mitos dan legenda Romawi Kuno yang sarat dengan tradisi dan kepercayaan paganisme (pemberhalaan) lalu diadopsi oleh kelompok-kelompok Kristen tertentu. Dikatakan “tertentu” sebab pihak Gereja Katolik sendiri tidak semuanya sepakat siapa sesungguhnya Santo Valentinus yang dianggap sebagai martir pada tanggal 14 Februari. Akan tetapi perayaan Valentine Day pernah diperingati secara resmi di Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia dan dilarang secara resmi tahun 1969. Tetapi masih terdapat beberapa kelompok gereja lain yang merayakannya.
Adapun ucapan “My Be Valentine” juga mengandung makna yang debatable. Ken Sweiger mengatakan kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang artinya sama dengan “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, dan Yang Maha Kuasa”. Pada zaman Romawi kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Jadi jika seseorang mengatakan kepada kekasihnya “My Be Valentine” maka ucapan tersebut telah mengangkat derajat kekasihnya sebagai “tuhan”, na’udzu billahi min dzalik.
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa sejarah Valentine Day berasal dari negeri Barat dan sarat dengan kepercayaan-kepercayaan yang berkaitan dengan akidah dan jelas bertentangan dengan akidah Islam. Oleh karena kisah awal Valentine Day berasal dari Barat dengan agama dan budaya yang berbeda dengan umat Islam, maka perayaannya pun kerap kali dilakukan bertentangan dengan syariat Islam. Di Amerika dan beberapa negara Barat, misalnya, perayaan tersebut bisa terjadi pada malam perayaan Valentine Day pasangan laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri tidur sekamar dan melakukan berbagai pesta yang mengumbar nafsu syahwat.
Selain itu, di balik perayaan Valentine Day, juga terdapat unsur bisnisnya, baik berupa penjualan kado/hadiah berwarna pink, cokelat, termasuk kartu ucapan Valentine Day. Kartu Valentine pertama kali dicetak secara massal setelah tahun 1847 oleh Esther A. Howland (1828 – 1904) dari Worcester, Massachusetts. The Greeting Crad Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) pernah memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu Valentine dikirimkan pertahun dengan pembeli terbanyak 85% berasal dari kaum perempuan. Ini adalah hari raya terbesar setelah natal dan tahun baru. Dalam perkembangan selanjutnya, kartu tersebut perlahan berubah menjadi benda-benda perhiasan yang diberikan kepada perempuan lalu melakukan berbagai pesta yang memberikan kenikmatan sesaat.
Oleh karena itu, remaja muslim dituntut untuk bersikap tidak ikut-ikutan merayakan hari valentine. Sebab mudharat jauh lebih besar dari manfaatnya. Bisa jadi mereka yang turut merayakannya akan rusak kemurnian akidahnya jika memang perayaan yang dilakukan oleh orang-orang Barat tersebut berkaitan dengan keyakinan ketuhanan mereka, yaitu yesus adalah anak tuhan. Perayaan itu juga bisa menjadi peluang besar bagi Iblis untuk menggoda dan mendorong manusia melakukan perbuatan-perbuatan zina yang dibungkus atas nama kasih sayang dan cinta sejati.
Padahal dalam doktrin Islam, sesama manusia mesti menjalin kasih sayang, sebab Islam adalah rahmatan lil-‘alamin di mana sesama umat Islam mesti saling mencintai dan menebar cinta kasih ke segenap penjuru alam. Namun wujud kasih sayang tersebut bukan melakukan hal-hal maksiat dan dilakukan pada momen-momen tertentu, apalagi pada momen yang sarat dengan budaya dan kepercayaan agama lain yang akidahnya diyakini tidak benar. Akan tetapi kasih sayang dan saling mencintai dilakukan karena kecintaan kita kepada Allah SWT. Sebab, Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk saling mencintai. Sebagaimana sabda Rasulul-Nya: “Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kamu sehingga ia mampu mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”. (al-Hadis)
Jika saja kasih sayang dan rasa cinta diberikan kepada orang lain karena Allah, niscaya wujud cinta tersebut akan mempererat silaturrahim dan semakin dekat kepada Allah SWT. Umat Islam dipersilahkan bebas berkarya, tetapi bebas terbatas, yaitu kebebasan yang dibatasi oleh ajaran Islam yang sesungguhnya membebaskan diri dari kesesatan. Maka berbuatlah sesuai dengan ilmu yang kita miliki. Firman-Nya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Qs. Al-Isra’/17: 36). Ingat pula sabda Nabi SAW: “Barangsiapa meniru suatu kaum, maka dia termasuk dari kaum tersebut”.

 

Nusaibah binti Ka’ab r.a.

Nusaibah binti Ka’ab r.a. Nusaibah binti Ka'ab: Srikandi Penolong Rasulullah

DI SEKELILING Rasulullah SAW terdapat terdapat para lelaki dan wanita (baca: para shahabat dan shahabiyah) dengan keimanan dan konsistensi tiada bandingannya. Mereka adalah orang-orang yang berani, dermawan, santun, dan mengasihi orang lain.

Tak terhitung lagi banyaknya literatur sejarah yang acapkali memuji kontribusi para sahabat Rasulullah SAW, namun penting juga rasanya memeras tenaga untuk menelisik informasi yang ada tentang kontribusi para shahabiyah (sahabat wanita) Rasulullah. Di antara sekian banyak dari mereka, salah satunya adalah Nusaibah binti Ka’ab r.a. yang –bersama keluarganya—dikenal sebagai sosok yang humanis dan sering berderma.

Di berbagai kitab hadits dan sirah (sejarah), Nusaibah dikenal dengan julukan ‘Ummu Imarah.’ Setelah mendengar Islam dan mengetahuinya, wanita yang memeluk Islam pada permulaan Islam muncul ini ikut pergi bersama kaum lelaki dari Madinah ke Makkah untuk bergabung dengan komunitas muslim di bawah bimbingan Nabi Muhammad.
...Nusaibah menjadi salah satu shahabiyah terkemuka yang disegani banyak orang, karena superioritasnya, terutama keberanian ketika membela Rasulullah pada Perang Uhud...
Nusaibah kemudian menjadi salah satu shahabiyah terkemuka yang disegani banyak orang. Hal ini dikarenakan superioritasnya, terutama keberanian yang didemonstrasikannya ketika membela Rasulullah pada Perang Uhud. Ketika itu, pada perang tersebut dia bergabung dengan pasukan Islam untuk mengemban tugas penting dalam bidang humanitarian. Bersama para wanita lainnya, Nusaibah ikut memasok air kepada para prajurit muslim dan mengobati mereka yang terluka.

Sejatinya, sungguh sangat tidak biasa bagi seorang wanita untuk ikut berpartisipasi di medan perang. Namun mereka memiliki peran penting dalam mengerahkan pasukan, memacu semangat mereka dengan senandung jihad, memuaskan dahaga para prajurit yang kehausan setiap kali cuaca panas menyengat, dan yang terpenting adalah mengobati para prajurit terluka.

Kita dapat mengetahui keberanian Nusaibah pada Perang Uhud dikarenakan pada perang tersebut banyak hal-hal yang tidak berjalan mulus. Pada prosesnya, nyawa Nabi Muhammad Saw. pun berada dalam bahaya. Meski tidak dapat disebutkan peristiwa-peristiwa detil pada perang tersebut, tapi penting untuk menyebutkan bahwa ketika pasukan pemanah di bawah komando Abdullah bin Jubair mengabaikan instruksi Rasulullah dan meninggalkan pos mereka, seketika itu juga pasukan musuh di bawah komando Khalid bin Al-Walid merangsek naik menempati pos mereka.

Dalam sebuah hadits shahih dinyatakan bahwa dalam perang tersebut sedikitnya 70 sahabat terluka dan banyak lainnya yang mati syahid.
...Ketika melihat Rasulullah menangkis berbagai serangan musuh sendirian, Nusaibah segera mempersenjatai dirinya dan membentuk sebuah formasi pertahanan untuk melindungi Rasulullah...
Ketika melihat Rasulullah menangkis berbagai serangan musuh sendirian, lalu Nusaibah segera mempersenjatai dirinya dan bergabung dengan yang lainnya membentuk sebuah formasi pertahanan untuk melindungi Rasulullah. Berbagai buku sejarah mencatat bahwa ketika itu Nusaibah berperang penuh keberanian dan tidak menghiraukan dirinya dalam membela beliau.

Meski akhirnya kaum muslimin mendapatkan kemenangan di Perang Uhud, sejatinya perang tersebut mencatat sejumlah pelajaran penting yang harus dicamkan kaum muslimin. Di sejumlah pelajaran penting tersebut terselip sebuah nota peranan penting Nusaibah dan keluarganya yang telah berjibaku bersusah payah membela Nabi Muhammad.

Dalam rangka membela Nabi Muhammad, Nusaibah sendiri menderita luka-luka, ada sekitar 12 luka di tubuhnya dengan luka di lehernya yang cukup parah. Namun hebatnya dia tidak pernah mengeluh, mengadu, atau bersedih. Dia justru memohon kepada Rasulullah agar mendoakan diri dan keluarganya agar kelak bisa bergabung bersama beliau di surga. Dan Rasul pun mengabulkan permintaannya.

Dalam sejarah Islam, selain disebut-sebut sebagai salah satu sahabat pionir dan berani, Nusaibah juga dinyatakan sebagai seorang wanita yang memiliki kesabaran luar biasa dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain dari dirinya sendiri. Salah seorang putranya kemudian syahid di pertempuran selanjutnya. Nusaibah menerimanya dengan penuh keyakinan bahwa putranya mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah, dan menerima berita kematian itu dengan penuh kemuliaan serta kebanggaan.

Tidak hanya Perang Uhud, Nusaibah bersama suami dan putra-putranya ikut dalam, Peristiwa Hudaibiyah, Perang Khaibar, Perang Hunain dan Perang Yamamah. Dalam berbagai pertempuran itu, Nusaibah tidak hanya membantu mengurus logistik dan merawat orang-orang yang terluka. Lebih dari itu, dia juga terjun ke medan perang dan mengangkat senjata. Bahkan pada Perang Yamamah, selain mendapat sebelas luka, tangannya juga terpenggal oleh musuh.

Setelah Rasulullah SAW meninggal dunia, sebagian kaum muslimin kembali murtad dan enggan berzakat. Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menjadi khalifah pada waktu itu segera membentuk pasukan untuk memerangi mereka. Abu Bakar mengirim surat kepada Musailamah Al-Kadzdzab dan menunjuk Habib, putranya Nusaibah, sebagai utusannya.
...Pada Perang Yamamah, Nusaibah dan putranya Abdullah ikut memerangi Musailamah sampai dia tewas di tangan mereka berdua...
Musailamah memerintahkan Habib untuk menyatakan bahwa dia adalah utusan Allah, namun Habib menolaknya dengan alasan bahwa dia tuli. Musailamah yang merasa marah akhirnya menyiksa Habib dengan memotong anggota tubuhnya satu persatu sampai syahid. Meninggalnya Habib meninggalkan luka yang dalam di hati Nusaibah. Pada Perang Yamamah, Nusaibah dan putranya Abdullah ikut memerangi Musailamah sampai dia tewas di tangan mereka berdua. Beberapa tahun setelah peristiwa Perang Yamamah, Nusaibah meninggal dunia. Yassarallahu hisabaki wa yammanallahu kitabaki! [ganna/voa-islam.com/ dari berbagai sumber]

Minggu, 09 Januari 2011

manajemen hati

Kenalilah hatimu….!!!!!
Ibnul mulqin As-Syafi’i berkata:”Bahwa baiknya hati itu ada dalam lima perkara; qiro’atul qur’an dan mentadabburinya, mengosongkan perut (shoum), qiyamul lail, merendahkan diri disaat menjelang subuh, dan berkumpul dengan orang-orang sholeh”.

            Dalam dunia medis kita mengenal sebuah organ tubuh manusia yang memiliki peran penting bagi kelangsungan hidupnya. Sistem kerjanya sangat mempengaruhi kesehatan seseorang. Jika ia telah rusak (sakit), maka seseorang tidak akan mampu lagi untuk bertahan hidup. Sebab ia merupakan organ tubuh yang befungsi untuk mentralisir segala bentuk racun yang masuk kedalam tubuhnya. Organ yang dimaksud adalah “hati”.
            Itulah fungsi hati yang memiliki peran penting didalam jasad manusia. Lebih dari pada itu, ternyata ia juga memiliki peran penting bagi jiwa (rohani) manusia, sebab semua amal baik dan buruk bermuara didalam hatinya. Sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa kesehatan jasmani dan rohani seseorang tergantung pada keadaan hatinya.
             
Qalbu adalah Raja yang dita`ati dan Pemimpin yang diikuti.
            Ibarat sebuah kerajaan, seorang raja memiliki peran yang sangat besar dalam menentukan kemaslahatan bagi rakyatnya. Ia memiliki kekuasaan mutlak dan wewenang untuk mengatur segala urusan kerajaannya. Lain halnya dengan rakyatnya, ia bagaikan budak yang harus mentaati perintahnya, mengikuti apa yang menjadi kehendak dan keinginannya.
Seperti itulah kiranya kedudukan hati manusia atas anggota badan lainnya. Hati merupakan pusat kendali terhadap amal perbuatan manusia. Apa yang diinginkan oleh hati akan direalisasikan oleh anggota badan lainnya. Maka tatkala hati senantiasa dibimbing dengan kebaikan, disetir dengan hidayah Allah maka kemaslahatan pun akan diraih, walaupun ia harus berjuang dan berkorban untuk menahan hawa nafsunya. Namun tatkala hati diperbudak oleh hawa nafsu yang akan terjadi adalah kerusakan dan kesengsaraan, walaupun kepuasan telah ia dapatkan, namun ketahuilah bahwa kepuasan yang ia rasakan hanyalah kepuasan semu yang akan segera berakhir.
Maka kebaikan jasad dan amal seseorang tergantung pada keadaan hatinya, sebab ia merupakan pusat kendali dari semua anggota tubuhnya. benar apa yang dinyatakan oleh Rosulullah dalam haditsnya.
« ... ألا وإِنَّ في الجَسَدِ مُضْغَةً إذا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسدُ كلُّه ، وإذا فَسَدَتْ فَسَدَ الجسَدُ كله، أَلا وهِيَ الْقَلْبُ » قطعة من حديث أخرجه البخاري ( 1 / 153 ) ومسلم ( 5 / 50 ) .
...Ketahuilah ! Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika, dia baik maka baiklah tubuh seluruhnya, dan jika dia rusak maka rusaklah tubuh seluruhnya. Ketahuilah ! Itulah qalbu”.(HR.Bukhori dan Muslim).

Qolbu adalah tempat perhelatan fitnah.
            Tatkala hati hendak berkata, yang akan menyertainya adalah hawa nafsu, ia akan selalu mendampinginya dalam setiap gerak geriknya, bak permaisuri dipangkuan sang raja. Raja yang bijak tidak akan mudah begitu saja menerima usul permaisurinya. Ia akan mempertimbangkan demi kemaslahatan rakyatnya. Namun raja yang bejat ia akan menuruti apa katanya demi kesenangan dirinya. Demikianlah kondisi hati manusia dalam menghadapai fitnah syubhat dan syahwat yang menjadi sebab kerusakannya. Kejernihannya akan dinodai oleh noda-noda maksiat yang selalu dikampanyekan dan dibisikkan oleh syaithon dan hawa nafsunya. Maka tatkala ia meng-iyakan apa katanya, sedikit demi sedikit kejernihannya akan berubah menjadi keruh, sehingga segala kebaikan tidak akan dapat terlihat olehnya. Mata hatinya telah dibutakan terhadap kebaikan. Rosulullah bersabda

تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَعرض الْحَصِيرِ عُوداً عُوداً ، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَت فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَت فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ ، حَتَّى تَعُودَ القُلُوبُ عَلَى قَلْبَيْنِ: قلبٍ أَسْوَدَ مُرْبَادّاً كَالْكُوزِ مُجَخِّياً لاَ يَعْرِفُ مَعْرُوفاً وَلاَ يُنْكِرُ مُنْكَراً ؛ إِلاَّ مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ ، وَقَلبٍ أَبْيَضْ ، فَلاَ تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ
 “Fitnah mendatangi qalbu seperti rajutan tikar, selembar-selembar. Qalbu mana saja yang menelannya, niscaya akan menumbuhkan satu titik hitam. Dan mana saja qalbu yang menolaknya, niscaya akan menumbuhkan satu titik putih, sehingga qalbu kembali ke dua jenis : qalbu hitam pekat seperti kendi terbalik yang tidak mengenal yang ma`ruf dan tidak mengingkari yang munkar kecuali apa yang diserap hawa nafsunya. Serta Qalbu putih yang tidak terbahayakan fitnah selama ada langit dan bumi”. (HR. Muslim : 144)

Qolbu mudah berbolak balik.
          Salah satu ciri khas yang dimiliki oleh qolb adalah mudah berbolak balik, ia mudah diombang ambingkan oleh keadaan. Laksana sebuah kapal yang dihembus oleh kerasnya badai ditengah lautan. Maka tidak heran jika kita saksikan bahwa keadaan seseorang dipagi harinya beriman, namun disore harinya telah berbalik menjadi kafir, demikian pula sebaliknya. Maka alangkah baiknya jika kita bisa mengontrol semangat dalam melakukan kebajikan. Jangan sampai terlalu berlebihan sehingga tatkala future menghampiri, ia akan jatuh dan terpuruk dalam kubangan kemaksiatan yang akhirnya ia sulit untuk dapat bangkit kembali. Sebab kita tidak bisa menjamin kebaikan yang ada pada diri seseorang akan senantiasa bercokol dalam dirinya, melainkan suatu saat bisa berubah menjadi sebaliknya. Hal itu senada dengan apa yang telah disabdakan oleh Rosulullah  
عن المقداد بن الأسود رضي الله عنه قال : لا أقول في رجل خيراً ولاشراً،حتى أنظر ما يختم له ـ يعني ـ بعد شيء سمعته من النبي صلى الله عليه وسلم ، فقيل : وما سمعت ؟ قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: » لقَلب ابنِ آدمَ أشدُّ انقلاباً من القِدْرِ إذا اجْتَمَعَتْ غَلَياناً « أخرجه أحمد(4/4) وصححه الألباني في" الصحيحة"(1772).
Dari Al Miqdad bin Al Aswad R.a berkata : Aku tidak mengatakan tentang seseorang itu baik atau buruk, hingga aku melihat akhir hidupnya – yaitu – setelah ada sesuatu yang aku dengar dari Nabi Saw. Beliau ditanya : Apa yang engkau telah dengar ? Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Sesungghnya Qalbu anak Adam lebih cepak berbalik daripada teko jika airnya mendidih”. (Hr. Ahmad : 4/4 dan  dishahihkan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah : 1772)
            Maka sudah sepantasnya bagi kita untuk senantiasa berdo’a kepada Dzat yang membolak balikkan hati (Allah) agar senantiasa diteguhkan hati kita diatas dien-Nya. Sebab tiada daya dan upaya melainkan dari-Nya.

Selasa, 21 Desember 2010

Puasa As-syuro


PUASA ‘ASYURO

          Azh-Zhain bin Al-Mughiroh berkata : “Pendapat terbanyak mengatakan bahwa yang dimaksud ‘Asyuro adalah tanggal sepuluh pada bulan Muharram, dan pendapat ini lebih sesuai jika dilihat dari akar katanya dan penamaannya.

Hukum Puasa ‘Asyuro
          Para ulama sepakat bahwa hukum puasa ‘Asyuro adalah sunnah, dan mereka berbeda pendapat mengenai hukumnya pada masa permulaan Islam tatkala  disyariatkan sebelum disyariatkannya puasa Ramadhan. Abu Hanifah berpendapat bahwa pada awalnya diwajibkan kemudian dihapus, dan diriwayatkan dari Imam Ahmad akan sunnahnya, begitu juga ucapan jumhur ulama, karena Rasulullah SAW tidak memerintahkan secara umum tentang puasa tersebut, bahkan beliau bersabda :

» هذا يوم عا شوراء, وأنا صائم فيه, فمن شاء صام ومن شاء أفطر «

“ Hari ini adalah hari ‘Asyuro, dan saya puasa pada hari tersebut, siapa yang suka maka hendaklah dia puasa dan siapa yang suka dia berbuka “
          Syaikhul    Islam       Ibnu    Taimiyah berkata :
“ Disunnahkan bagi yang puasa pada hari ‘Asyuro untuk berpuasa pada tanggal sembilannya, karena hal tersebut adalah perintah rasulullah saw yang paling akhir”.

Hikmah Puasa ‘Asyuro dan Puasa Tanggal Sembilannya.

          Adapun puasa tanggal sembilannya adalah untuk menjaga puasa ‘Asyuro, juga untuk menunjukkan sikap berbeda dari orang-orang Yahudi yang juga berpuasa hanya pada hari itu saja. Dengan menggabungkan  kedua hari itu maka syariat tersebut menjadi berbeda dari ajaran Yahudi. Adapun puasa ‘Asyuro itu sendiri karena pada hari tersebut terjadi beberapa kejadian yang baik, diantaranya : Selamatnya Musa alaihissalam dan para pengikutnya serta tenggelamnya musuh Allah, Fir’aun beserta kaumnya, begitu juga terjadinya beberapa tanda-tanda kebesaran Allah terhadap makhluknya, sesuatu yang layak untuk di syukuri.

Keutamaan Puasa ‘Asyuro.

          Terdapat riwayat dalam shahih Muslim dari Abi Qatadah bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah saw tentang puasa ‘Asyuro, maka beliau bersabda : “Saya berharap agar ‘Allah menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya “

Urutan Derajat Puasa ‘Asyuro

          Derajat pertama dan  yang paling utama, adalah dengan melakukan puasa tiga hari, yaitu tanggal sembilan, sepuluh dan sebelas.

          Derajat kedua, yaitu berpuasa pada tanggal sembilan dan sepuluhnya, sebagaimana yang terdapat dalam riwayat Muslim dari Ibnu Abbas radiallahuanhu, dia berkata : Rasulullah saw bersabda : “Jika saya masih ada  pada tahun depan, saya akan berpuasa pada tanggal sembilannya (bersama tanggal sepuluh)”, dan dari Ibnu Abbas juga, beliau bersabda “ Puasalah kalian pada tanggal sembilan dan sepuluh, bedakanlah dari orang-orang Yahudi ”.

          Derajat ketiga, yaitu dengan berpuasa hanya pada tanggal sepuluhnya saja, sebagaimana dari Ibnu Abbas dia berkata : “Kami diperintahkan Rasulullah saw untuk berpuasa pada hari ‘Asyuro”

Apa Derajat Yang Paling Utama ?

          Yang paling utama dari ketiga derajat tersebut adalah derajat yang pertama, karena berpuasa pada hari-hari tersebut akan mendapatkan beberapa manfaat, diantaranya:
C Akan mendapatkan ganjaran puasa sebuan penuh, sebagaimana hadits Abdullah bin Amr bin Ash radialluhanhu, dia berkata, Rasulullah saw bersabda : “tiga hari pada setiap bulan bagaikan puasa selamanya “.

C Karena puasa pada bulan ini adalah puasa yang utama setelah puasa Ramadhan,  sebagaimana hadits Ibnu Abbas radiallahunhu, dia berkata : “Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw memperhatikan sebuah puasa dan mengutamakannya atas yang lainnya, kecuali hari ini, yaitu hari ‘Asyuro, dan bulan ini, yaitu bulan Ramadhan “.

 C Menunjukkan sikap berbeda dari orang-orang Yahudi, sebagaimana hadits Ibnu Abbas : “Berpuasalah kalian sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya “.
C Mengikuti jejak Rasulullah saw yang merupakan sunnahnya dengan mengamalkannya dan mendakwahkannya, sebagai bentuk ibadah yang utama kepada Allah swt.

C Dapat menghapus dosa-dosa setahun penuh, berdasarkan hadits Qatadah radiallahunhu, dia berkata, Rasulullah saw bersabda : ”Dan hari ‘Asyuro dapat menghapus (dosa-dosa) setahun sebalumnya “.

          Akhi yang saya cintai, ada yang ingin saya saya sampaikan kepada anda: Walaupun bulan puasa (bulan Ramadan) telah berlalu, akan  tetapi waktu  beramal tetap ada, begitu juga dengan  berpuasa, tetap disyariatkan setiap waktu -segala puji bagi Allah-. Rasulullah saw berpuasa pada hari ‘Asyuro dan beliau memerintahkan untuk berpuasa sebelum disyariatkannya puasa Ramadhan. Sesungguhnya puasa ‘Asyuro adalah sunnah dari Rasulullah, jika diamalkan dan didakwahkan dengan ucapan dan perbuatan, maka hal tersebut merupakan ibadah yang sangat utama kepada Allah, karena siapa yang menghidupkan sunnah, mengamalkannya dan menyebarkannya diantara manusia maka baginya dua pahala, pahala dia beramal dan pahala menghidupkan sunnah tersebut, maka selayaknya bagi setiap muslim untuk melakukannya.

          Karena pada hakekatnya umur kita adalah apa yang kita isi didalamnya dengan ketaatan kepada Allah swt, selebihnya akan belalu begitu saja tanpa nilai, dan akan menyesallah orang yang menyia-nyiakan kesempatannya, pada saat tidak berguna lagi penyesalan.

Apakah Terdapat Kekhususan Lain Pada Hari ‘Asyuro :

          Doktor Shaleh As-Sadlan berkata : 
“ Tidak ada kekhususan lain pada hari ini kecuali puasa, adapun yang dituliskan beberapa kitab dan yang disebutkan sebagian fuqoha, bahwa disunnahkan pada hari tersebut melebihkan nafkah untuk keluarga dan menjadikannya menyerupai hari ‘Id, tidak terdapat dalil yang shahih didalamnya.

Beberapa Bid’ah Pada Hari ‘Asyuro.

          Kini kita merenung sejenak tentang hari ‘Asyuro, hari mulia yang didalamnya Allah selamatkan Musa alaihissalam dan para pengikutnya dari Firaun dan kaumnya, kemudian dirubah oleh sebagian kaum muslimin di sebagian negri-negri Islam menjadi acara kendurian. Para ulama telah menerangkan semua itu sebagai bid’ah yang diharamkan dan bukan bagian dari ajaran Islam akan tetapi lebih dekat kepada ajaran jahiliyah. Akan anda dapatkan sebagian diantara mereka menghindari perhiasan dan kesenangan, yang demikian itu untuk memperingati terbunuhnya Husain radiallahu’anhu. Benar, terbunuhnya beliau membuat kaum muslimin sangat sedih, akan tetapi apakah itu berarti kita harus selalu mengorek luka lama ? Tidak, sebab yang demikian itu akan menjadikan kaum muslimin berpecah belah dan  menumbuhkan fanatisme, serta membiarkan musuh-musuh mengambil kesempatan masuk didalamnya. Diantara bid’ah yang lain adalah membuat makanan yang berbeda dari biasanya, seperti dengan menambahkan biji-bijian atau yang lain, atau mengganti baju dan melapangkan nafkah bagi keluarga, atau membeli kebutuhan setahun pada hari itu, atau melakukan ibadah tertentu seperti shalat, menyembelih hewan, menyimpan daging korban untuk dimasak pada hari itu, memakai celak mata, saling bersalam-salaman, saling berziarah, mengunjungi masjid atau kuburan, atau menampar pipi dan merobek kantong baju sebagai tanda bela sungkawa seperti cara jahiliyah. Semua itu adala perbuatan bi’ah dan kemungkaran yang tidak diajarkan oleh Rasulullah saw, juga Khulafaurrasyidun dan orang-orang sesudahnya, juga tidak ada para imam yang menganjurkannya. Sesungguhnya yang sangat dibenci Islam adalah mengulang-ngulang kesedihan, maka bagaimana mereka melakukan hal yang demikian tersebut. Bagi setiap muslim seharusnya menjauhi perbuatan bid’ah, karena sebaik-baiknya perbuatan adalah mengikuti Rasulullah saw dan seburuk-buruknya perbuatan adalah menjauhi ajaran Rasulullah saw, karena setiap bi’ah adalah sesat dan setiap kesesatan kedalam neraka.
           
         


المكتب التعاوني لدعوة الجاليات بالسلي